Friday, October 31, 2008

AQIDAH 1: KONSEP BERAGAMA

Apakah itu Agama?


Pengertian Agama
Tujuan penyusunan perbahasan ini ialah menjelaskan akidah Islam yang dikenal dengan istilah ushuluddin (prinsip-prinsip agama). Untuk itu, terlebih dahulu kami akan menjelaskan kata din (agama) secara ringkas dan membahas segala hal yang berhubungan dengannya. Hal itu—sebagaimana telah di-nyatakan dalam ilmu Mantiq(ilmu logika)—adalah penting unuk mengetahui bahawa tahap pembahasan definisi(Mabadi Tashawwuriyyah) mengawali pembahasan masalah lainnya.


Secara bahasa, kata din berasal dari bahasa Arab yang berarti ketaatan atau jalan yang ditaati. Sedangkan secara teknikal,(istilah) din berarti iman kepada pencipta manusia dan alam semesta, serta kepada sistem hukum praktikal yang sesuai dengan keimanan tersebut. Dari sinilah kata al-la-dini (orang yang tak beragama) digunakan pada orang yang tidak percaya kepada wujud pencipta alam secara mutlak, walaupun ia meyakini shudfah (kejadian yang tak bersebab-akibat –semulajadi-) di alam ini, atau meyakini bahwa terciptanya alam semesta ini akibat interaksi tindak balas alam semata. Adapun kata al-mutadayyin (orang yang beragama) secara umum digunakan pada orang yang percaya akan wujud pencipta alam semesta ini, walaupun kepercayaan atas agama, perilaku dan ibadahnya bercampur dengan berbagai penyimpangan dan khurafat. Atas dasar inilah agama yang dianut oleh umat manusia terbagi menjadi dua; agama yang hak dan agama yang batil. Agama yang hak merupakan dasar yang meliputi keyakinan-keyakinan yang benar; yang sesuai dengan kenyataan, dan ajaran-ajaran serta hukum-hukumnya dibangun di atas dasar yang kukuh dan dapat dibuktikan kesahihannya.
Ushuluddin dan Cabang-cabangnya.


Dari uraian singkat di atas nampak jelas bahwa istilah din atau agama terdiri dari dua unsur : pertama, akidah atau aqa’id (keyakinan-keyakinan) yang merupakan prinsip agama. Kedua, hukum-hukum praktikal yang merupakan akibat logika dari prinsip agama tersebut.
Oleh karena itu, tepat sekali apabila bahagian akidah ini dinamakan sebagai ushul (prinsip) agama, dan bagian ahkam (hukum-hukum) praktikal pula dinamakan sebagai furu’ (cabang), sebagaimana para ulama Islam menggunakan dua istilah tersebut pada bidang akidah dan hukum-hukum Islam.


Pandangan Dunia (World View) dan Ideologi.
Pandangan dunia (Ar-Ru’yah Al-Kauniyyah) dan ideologi adalah dua istilah yang ertinya saling berhubung kait. Salah satu erti pandangan dunia ialah keyakinan mengenai penciptaan, alam semesta dan manusia, bahkan mengenai wujud secara mutlak.Sedangkan erti ideologi, salah satunya ialah pandangan universal(menyeluruh) tentang sikap praktikal manusia. Berdasarkan dua erti ini, sistem akidah setiap agama dapat dianggap sebagai sebuah pandangan yang bersifat universal, sedangkan sistem hukum praktikal agama yang bersifat umum adalah ideologinya. Maka itu, kedua istilah ini dapat diterapkan pada ushuluddin dan furu’uddin.


Akan tetapi, perlu diperhatikan bahawa istilah ideologi itu tidak meliputi hukum-hukum juz’i (sampingan), begitu pula istilah pandangan dunia itu tidak meliputi keyakinan-keyakinan yang juz'i. Walaupun ada pandangan yang mengatakan bahwa istilah ideologi terkadang digunakan untuk pengertian pandangan dunia itu sendiri.


Pandangan Dunia Ilahi dan Materialisme (kebendaan)
Pada diri umat manusia, terdapat berbagai pandangan dan keyakinan mengenai penciptaan alam semesta ini. Akan tetapi, semua itu dari sisi keimanan atau pengingkaran terhadap alam metafizik (ghaibiat) dapat dibagi menjadi dua bagian utama; pandangan dunia Ilahi dan pandangan dunia Materialisme.


Dulu, penganut pandangan dunia Materialisme dikenal sebagai ath-thabi’i dan ad-dahri. Terkadang juga disebut sebagai zindiq dan mulhid (ateis). Sedangkan di zaman kita sekarang ini, mereka dikenal sebagai al-maddi (materialistik). Pada kaum materialistic ini sendiri terdapat aliran-aliran, yang paling menonjol pada masa kita sekarang ini adalah Materialisme Dialektika yang merupakan bagian Filsafat Marxisme.


Dari uraian di atas jelaslah bahwa istilah pandangan dunia tidak terbatas hanya pada kepercayaan agama saja, namun mempunyai pengertian yang lebih luas lagi, karena istilah itu juga digunakan pada pandangan ilhadiyyah (ateisme) dan madiyyah (materialisme), sebagaimana istilah ideologi itu tidak hanya digunakan untuk sistem hukum (perundangan) suatu agama.


Agama Samawi (berasal dari Allah swt) dan Dasar-dasarnya
Para ulama, ahli sejarah agama dan sosiologi berbeza pendapat mengenai kemunculan agama. Adapun sumber-sumber Islam menyatakan bahwa agama tauhid lahir ketika kelahiran manusia pertama. Manusia pertama yang lahir di muka bumi ini adalah nabi (Adam as) dan penyeru ajaran tauhid (mengesakan Allah). Adapun agama-agama musyrik muncul lantaran penyimpangan, pemaksaan atas kehendak dan keinginan busuk, yang bersifat individu mahupun kelompok.


Agama-agama tauhid adalah agama-agama samawi yang hakiki dengan tiga prinsip universal mereka, yaitu pertama: iman kepada Allah Yang Esa. Kedua, iman kepada kehidupan abadi setiap manusia di akhirat kelak untuk menerima pembalasan amal yang pernah ia lakukan semasa hidupnya di dunia. Ketiga, iman kepada para nabi dan rasul yang diutus oleh Allah untuk memberi hidayah dan bimbingan kepada seluruh umat manusia demi mencapai puncak kesempurnaan dan kebahagiaan dunia serta akhirat.


Pada dasarnya, tiga prinsip ini merupakan jawaban yang paling tegas atas persoalan-persoalan asas manusia yang berakal. Iaitu,
Siapakah pencipta alam semesta ini?
Bagaimanakah akhir kehidupan ini?
Apakah cara untuk mengetahui sistem kehidupan yang terbaik?


Sistem kehidupan yang didirikan atas dasar wahyu pada hakikatnya adalah ideologi yang bersumber dari pandangan dunia Ilahi. Prinsip-prinsip akidah itu mempunyai berbagai kesan dan rincian yang semuanya membentuk sebuah sistem akidah agama. Adanya perbezaan di antara berbagai keyakinan tersebut merupakan sebab munculnya berbagai agama dan mazhab. Kita perhatikan bagaimana perbezaan tentang status kenabian sebahagian para nabi Ilahi, juga tentang membuktikan kitab-kitab yang asli menjadi sebab utama perselisihan di antara agama Yahudi, Nasrani dan Islam. Perbezaan-perbezaan lainnya sekitar masalah akidah dan ibadah, sehingga sebahagian dari agama itu sudah tidak sesuai lagi dengan ajarannya yang asli. Contohnya, keyakinan orang-orang Nasrani terhadap konsep Triniti (kepercayaan terhadap konsep tuhan tiga dalam satu) yang jelas tidak sesuai dengan prinsip Tauhid, walaupun mereka telah berusaha untuk menafsirkan dan menakwilnya sebegitu rupa agar dapat diterima. Demikian pula perselisihan mengenai kepimpinan dan penentuan khalifah setelah wafatnya Rasul saw; Apakah penentuan khalifah itu urusan Allah atau urusan manusia?. Persoalan ini merupakan sebab utama terjadinya ikhtilaf (perbezaan pandangan) antara mazhab Ahli Sunnah dan mazhab Syi’ah di dalam Islam.


Usuluddin iaitu Tauhid, Kenabian dan Ma’ad (Hari Kebangkitan) yang mana ianya adalah prinsip-prinsip akidah pada semua agama samawi. Meskipun begitu, terdapat keyakinan-keyakinan yang merupakan keyakinan yang bertahap dari prinsip-prinsip tersebut. Misalnya, keyakinan terhadap kewujudan Allah adalah prinsip pertama, terhadap keyakinan pada keesaan-Nya yang merupakan prinsip kedua, atau, keyakinan terhadap Kenabian merupakan sebuah prinsip semua agama samawi, sedangkan keyakinan terhadap kenabian Nabi Muhammad saw adalah prinsip yang khas pada Islam. Sebahagian ulama Syi’ah menjadikan Keadilan Tuhan yang merupakan cabang dari prinsip Tauhid sebagai prinsip akidah khas Syi’ah, dan Imamah (kepimpinan para imam Ahlul Bait) sebagai penyambung dan pemelihara tugas Kenabian—adalah prinsip akidah khas Syi’ah yang lain. Sebenarnya, penggunaan kata prinsip (al-ashl) pada ajaran-ajaran akidah seperti ini mengikuti syarat keagamaan dan tidak perlu lagi diperdebatkan.


Oleh karena itu, kata ushuluddin dapat digunakan dalam dua istilah; umum dan khusus. Istilah umum ushuluddin meliputi akidah-akidah yang sahih; sebagai lawan dari furu’uddin. Sedang istilah khusus ushuluddin berlaku hanya pada keyakinan-keyakinan yang paling utama. Istilah ushuluddin juga dapat digunakan secara mutlak (tidak hanya khusus bagi sebuah agama) pada sejumlah persamaan prinsip akidah di antara agama-agama samawi seperti tiga prinsip di atas tadi, yaitu Tauhid, Kenabian dan Hari Kebangkitan. Adapun jika ditambahkan prinsip-prinsip lainnya, istilah yang biasa digunakan adalah ushuluddin khusus. Demikian pula, jika ditambahkan akidah dan keyakinan yang khas pada mazhab tertentu, istilah yang digunakan adalah ushulul madzhab.

Bersambung...

1 comment:

sherly yuspitasari said...

Ya allah .. tanpa perilaku orientalis .afa islam sudah terpecah belah